BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang
Kanker Leher Rahim (Kanker Serviks) adalah tumor ganas yang tumbuh di dalam leher rahim/serviks (bagian terendah dari rahim yang menempel pada puncak vagina. Kanker serviks biasanya menyerang wanita berusia 35-55 tahun. 90% dari kanker serviks berasal dari sel skuamosa yang melapisi serviks dan 10% sisanya berasal dari sel kelenjar penghasil lendir pada saluran servikal yang menuju ke dalam rahim. Karsinoma serviks biasanya timbul pada zona transisional yang terletak antara epitel sel skuamosa dan epitel sel kolumnar.Hingga saat ini kanker serviks merupakan penyebab kematian terbanyak akibat penyakit kanker di negara berkembang. Sesungguhnya penyakit ini dapat dicegah bila program skrining sitologi dan pelayanan kesehatan diperbaiki. Diperkirakan setiap tahun dijumpai sekitar 500.000 penderita baru di seluruh dunia dan umumnya terjadi di negara berkembang.Penyakit ini berawal dari infeksi virus yang merangsang perubahan perilaku sel epitel serviks. Pada saat ini sedang dilakukan penelitian vaksinasi sebagai upaya pencegahan dan terapi utama penyakit ini di masa mendatang.Risiko terinfeksi virus HPV dan beberapa kondisi lain seperti perilaku seksual, kontrasepsi, atau merokok akan mempromosi terjadinya kanker serviks. Mekanisme timbulnya kanker serviks ini merupakan suatu proses yang kompleks dan sangat variasi hingga sulit untuk dipahami.Insiden dan mortalitas kanker serviks di dunia menempati urutan kedua setelah kanker payudara. sementara itu, di negara berkembang masih menempati urutan pertama sebagai penyebab kematian akibat kanker pada usia reproduktif. Hampir 80% kasus berada di negara berkembang. Sebelum tahun 1930, kanker servik merupakan penyebab utama kematian wanita dan kasusnya turun secara drastik semenjak diperkenalkannya teknik skrining pap smear oleh Papanikolau. Namun, sayang hingga kini program skrining belum lagi memasyarakat di negara berkembang, hingga mudah dimengerti mengapa insiden kanker serviks masih tetap tinggi.Hal terpenting menghadapi penderita kanker serviks adalah menegakkan diagnosis sedini mungkin dan memberikan terapi yang efektif sekaligus prediksi prognosisnya. Hingga saat ini pilihan terapi masih terbatas pada operasi, radiasi dan kemoterapi, atau kombinasi dari beberapa modalitas terapi ini. Namun, tentu saja terapi ini masih berupa “simptomatis” karena masih belum menyentuh dasar penyebab kanker yaitu adanya perubahan perilaku sel. Terapi yang lebih mendasar atau imunoterapi masih dalam tahap penelitian.Saat ini pilihan terapi sangat tergantung pada luasnya penyebaran penyakit secara anatomis dan senantiasa berubah seiring dengan kemajuan teknologi kedokteran. Penentuan pilihan terapi dan prediksi prognosisnya atau untuk membandingkan tingkat keberhasilan terapi baru harus berdasarkan pada perluasan penyakit. Secara universal disetujui penentuan luasnya penyebaran penyakit melalui sistem stadium.
Kanker Leher Rahim (Kanker Serviks) adalah tumor ganas yang tumbuh di dalam leher rahim/serviks (bagian terendah dari rahim yang menempel pada puncak vagina. Kanker serviks biasanya menyerang wanita berusia 35-55 tahun. 90% dari kanker serviks berasal dari sel skuamosa yang melapisi serviks dan 10% sisanya berasal dari sel kelenjar penghasil lendir pada saluran servikal yang menuju ke dalam rahim. Karsinoma serviks biasanya timbul pada zona transisional yang terletak antara epitel sel skuamosa dan epitel sel kolumnar.Hingga saat ini kanker serviks merupakan penyebab kematian terbanyak akibat penyakit kanker di negara berkembang. Sesungguhnya penyakit ini dapat dicegah bila program skrining sitologi dan pelayanan kesehatan diperbaiki. Diperkirakan setiap tahun dijumpai sekitar 500.000 penderita baru di seluruh dunia dan umumnya terjadi di negara berkembang.Penyakit ini berawal dari infeksi virus yang merangsang perubahan perilaku sel epitel serviks. Pada saat ini sedang dilakukan penelitian vaksinasi sebagai upaya pencegahan dan terapi utama penyakit ini di masa mendatang.Risiko terinfeksi virus HPV dan beberapa kondisi lain seperti perilaku seksual, kontrasepsi, atau merokok akan mempromosi terjadinya kanker serviks. Mekanisme timbulnya kanker serviks ini merupakan suatu proses yang kompleks dan sangat variasi hingga sulit untuk dipahami.Insiden dan mortalitas kanker serviks di dunia menempati urutan kedua setelah kanker payudara. sementara itu, di negara berkembang masih menempati urutan pertama sebagai penyebab kematian akibat kanker pada usia reproduktif. Hampir 80% kasus berada di negara berkembang. Sebelum tahun 1930, kanker servik merupakan penyebab utama kematian wanita dan kasusnya turun secara drastik semenjak diperkenalkannya teknik skrining pap smear oleh Papanikolau. Namun, sayang hingga kini program skrining belum lagi memasyarakat di negara berkembang, hingga mudah dimengerti mengapa insiden kanker serviks masih tetap tinggi.Hal terpenting menghadapi penderita kanker serviks adalah menegakkan diagnosis sedini mungkin dan memberikan terapi yang efektif sekaligus prediksi prognosisnya. Hingga saat ini pilihan terapi masih terbatas pada operasi, radiasi dan kemoterapi, atau kombinasi dari beberapa modalitas terapi ini. Namun, tentu saja terapi ini masih berupa “simptomatis” karena masih belum menyentuh dasar penyebab kanker yaitu adanya perubahan perilaku sel. Terapi yang lebih mendasar atau imunoterapi masih dalam tahap penelitian.Saat ini pilihan terapi sangat tergantung pada luasnya penyebaran penyakit secara anatomis dan senantiasa berubah seiring dengan kemajuan teknologi kedokteran. Penentuan pilihan terapi dan prediksi prognosisnya atau untuk membandingkan tingkat keberhasilan terapi baru harus berdasarkan pada perluasan penyakit. Secara universal disetujui penentuan luasnya penyebaran penyakit melalui sistem stadium.
1.2 Tujuan
Tujuan dari penulisan makalah ini yaitu untuk lebih memahami tentang Ca serviks,serta Asuhan keperawatan dari Ca cerviks.
Tujuan dari penulisan makalah ini yaitu untuk lebih memahami tentang Ca serviks,serta Asuhan keperawatan dari Ca cerviks.
BAB 2
PEMBAHASAN
2.1
Defenisi
Kanker serviks adalah penyakit
akibat tumor ganas pada daerah mulut rahim sebagai akibat dari adanya
pertumbuhan jaringan yang tidak terkontrol dan merusak jaringan normal di
sekitarnya (FKUI, 1990; FKKP, 1997).
2.2 Etiologi
Human papilloma virus (HPV) 16 dan
18 merupakan penyebab utama pada 70% kasus kanker serviks di dunia. Perjalanan
dari infeksi HPV hingga menjadi kanker serviks memakan waktu yang cukup lama,
yaitu sekitar 10 hingga 20 tahun. Namun proses penginfeksian ini seringkali
tidak disadari oleh para penderita, karena proses HPV kemudian menjadi
pra-kanker sebagian besar berlangsung tanpa gejala.
Beberapa faktor resiko dan
predisposisi yang menonjol, antara lain :
a. Umur pertama kali melakukan hubungan seksual
Penelitian menunjukkan bahwa semakin muda wanita melakukan hubungan seksual semakin besar mendapat kanker serviks. Kawin pada usia 20 tahun dianggap masih terlalu muda
b. Jumlah kehamilan dan partus
Kanker serviks terbanyak dijumpai pada wanita yang sering partus. Semakin sering partus semakin besar kemungkinan resiko mendapat karsinoma serviks.
c. Jumlah perkawinan
Wanita yang sering melakukan hubungan seksual dan berganti-ganti pasangan mempunyai faktor resiko yang besar terhadap kankers serviks ini.
d. Infeksi virus
Infeksi virus herpes simpleks (HSV-2) dan virus papiloma atau virus kondiloma akuminata diduga sebagai factor penyebab kanker serviks
e. Sosial Ekonomi
Karsinoma serviks banyak dijumpai pada golongan sosial ekonomi rendah mungkin faktor sosial ekonomi erat kaitannya dengan gizi, imunitas dan kebersihan perseorangan. Pada golongan sosial ekonomi rendah umumnya kuantitas dan kualitas makanan kurang hal ini mempengaruhi imunitas tubuh.
f. Hygiene dan sirkumsisi
Diduga adanya pengaruh mudah terjadinya kankers serviks pada wanita yang pasangannya belum disirkumsisi. Hal ini karena pada pria non sirkum hygiene penis tidak terawat sehingga banyak kumpulan-kumpulan smegma.
g. Merokok dan AKDR (alat kontrasepsi dalam rahim)
Merokok akan merangsang terbentuknya sel kanker, sedangkan pemakaian AKDR akan berpengaruh terhadap serviks yaitu bermula dari adanya erosi diserviks yang kemudian menjadi infeksi yang berupa radang yang terus menerus, hal ini dapat sebagai pencetus terbentuknya kanker serviks.
a. Umur pertama kali melakukan hubungan seksual
Penelitian menunjukkan bahwa semakin muda wanita melakukan hubungan seksual semakin besar mendapat kanker serviks. Kawin pada usia 20 tahun dianggap masih terlalu muda
b. Jumlah kehamilan dan partus
Kanker serviks terbanyak dijumpai pada wanita yang sering partus. Semakin sering partus semakin besar kemungkinan resiko mendapat karsinoma serviks.
c. Jumlah perkawinan
Wanita yang sering melakukan hubungan seksual dan berganti-ganti pasangan mempunyai faktor resiko yang besar terhadap kankers serviks ini.
d. Infeksi virus
Infeksi virus herpes simpleks (HSV-2) dan virus papiloma atau virus kondiloma akuminata diduga sebagai factor penyebab kanker serviks
e. Sosial Ekonomi
Karsinoma serviks banyak dijumpai pada golongan sosial ekonomi rendah mungkin faktor sosial ekonomi erat kaitannya dengan gizi, imunitas dan kebersihan perseorangan. Pada golongan sosial ekonomi rendah umumnya kuantitas dan kualitas makanan kurang hal ini mempengaruhi imunitas tubuh.
f. Hygiene dan sirkumsisi
Diduga adanya pengaruh mudah terjadinya kankers serviks pada wanita yang pasangannya belum disirkumsisi. Hal ini karena pada pria non sirkum hygiene penis tidak terawat sehingga banyak kumpulan-kumpulan smegma.
g. Merokok dan AKDR (alat kontrasepsi dalam rahim)
Merokok akan merangsang terbentuknya sel kanker, sedangkan pemakaian AKDR akan berpengaruh terhadap serviks yaitu bermula dari adanya erosi diserviks yang kemudian menjadi infeksi yang berupa radang yang terus menerus, hal ini dapat sebagai pencetus terbentuknya kanker serviks.
2.3 Patofisiologi
Karsinoma serviks timbul dibatas antara epitel yang
melapisi ektoserviks (parsial) dan endoserviks kanalik serviks yang disebut
Squamo Columnar Junction (SCJ). Pada wanita muda SCJ ini berada di luar ostium
uteri eksterneum, sedang wanita berumur > 35 tahun SCJ berada didalam
kanalis serviks. Pada awal perkembangannya kanker serviks tak memberi
tanda-tanda atau keluhan. Pada pemeriksaan dengan spekulum tampak sebagai
porsio yang erosif (Metaplasia Skuamosa) yang fisiologi/patologik.
Tumor dapat tumbuh eksofitik mulai dari SCJ ke arah
lumen vagina sebagai masa proliferasi mengalami infeksi sekunder dan nekrosis,
endofitik mulai dari SCJ tumbuh ke dalam serviks dan cenderung utuh mengadakan
infiltrasi menjadi ulkus, ulseratif cenderung merusak jarinan serviks dengan
melibatkan awal farniase vagina menjadi ulkus yang luas.
Serviks yang normal, secara alami mengalami proses metaplasi
(erasio) akibat saling desak mendesaknya kedua jenis epital yang melapisi.
Dengan masuknya mutagen, porsio yang erosif (metaplasia skuamosa) yang semula
faali/fisiologik dapat berubah menjadi patologik (displatik-diskariotik)
melalui tingkatan NIS-I, II, III dan KIS untuk akhirnya menjadi karsinoma
invasif. Sekali menjadi mikro invasif atau invasif, proses keganasan akan
berjalan terus.
Periode laten (dari NIS-I s/d KIS) tergantung dari
daya tahan tubuh penderita. Umumnya fase prainvasif berkisar antara 3-10 tahun
(rata-rata 5-10 tahun). Perubahan epitel displatik serviks secara kontinu yang
masih memungkinkan terjadinya regresi spontan dengan pengobatan/tanpa diobati
itu dikenal dengan unitarian concept dari Richart. Histopatologik sebagian
terbesar (95-97%) berupa epidermoid atau squamous cell carcinoma, sisanya
adenokarsinoma, clearcell carcinoma/mesonephroid carcinoma, dan yang paling
jarang adalah sarkoma.
2.4 Manifestasi
klinis
1. Dari Anamnesis didapatkan keluhan :
Metrorargia (perdarahan uterus yang terjadi di luar
siklus menstruasi)
Keputihan warna putih/purulen yang berbau dan tidak
gatal
Perdarahan pasca coitus
Perdarahan spontan
Bau busuk yang khas
2. Pada yang lanjut ditemukan keluhan cepat lelah,
kehilangan berat badan dan anemia.
3. Pada pemeriksaan fisik serviks dapat teraba,
membesar, iregular dan teraba lunak.
4. Bila tumor tumbuh eksofitik maka akan terlihat lesi
pada porsio/sudah sampai vagina.
2.5
Pemeriksaan diagnostik
1.
Sitologi/pap smear
Keuntungan:
murah, dapat memeriksa bagian-bagian yang tidak terlihat.
Kelemahan: tidak dapat menentukan lokasi.
Kelemahan: tidak dapat menentukan lokasi.
2.
Schillentest
Epitel
karsinoma serviks tidak mengandung glikogen karena tidak mengikat yodium. Kalau
porsio diberi yodium maka epitel karsinoma yang normal akan berwarna coklat
tua, sedang yang terkena kaersinoma tidak berwarna.
3.
Koloskopi
Memeriksa
dengan menggunakan alat untuk melihat serviks dengan lampu dan dibesarkan
10-40x.
Keuntungan: dapat melihat jelas daerah yang bersangkutan sehingga mudah untuk melakukan biopsi.
Kelemahan: hanya dapat memeriksa daerah yang terlihat saja yaitu porsio, sedangkan kelainan pada skuamosa kolumnar junction dan intraservikal tidak terlihat.
Keuntungan: dapat melihat jelas daerah yang bersangkutan sehingga mudah untuk melakukan biopsi.
Kelemahan: hanya dapat memeriksa daerah yang terlihat saja yaitu porsio, sedangkan kelainan pada skuamosa kolumnar junction dan intraservikal tidak terlihat.
4.
Kolpomikroskopi
Melihat
hapusan vagina (Pap Smear) dengan pembesaran sampai 200x.
5.
Biopsi
Dengan
biopsi dapat ditemukan atau ditentukan jenis karsinomanya.
6.
Konisasi
Dengan cara mengangkat jaringan yang
berisi selaput lendir serviks dan epitel gepeng dan kelenjarnya. Konisasi
dilakukan bila hasil sitologi meragukan dan pada serviks tidak tampak
kelainan-kelainan yang jelas.
2.6
Penatalaksanaan/terapi
a. Irradiasi
• Dapat dipakai untuk semua stadium
• Dapat dipakai untuk wanita gemuk tua dan pada medical risk
• Tidak menyebabkan kematian seperti operasi.
b. Dosis
Penyinaran ditujukan pada jaringan karsinoma yang terletak diserviks
c. Komplikasi irradiasi
• Kerentanan kandungan kencing
• Diarrhea
• Perdarahan rectal
• Fistula vesico atau rectovaginalis
d. Operasi
• Operasi Wentheim dan limfatektomi untuk stadium I dan II
• Operasi Schauta, histerektomi vagina yang radikal
e. Kombinasi
• Irradiasi dan pembedahan
Tidak dilakukan sebagai hal yang rutin, sebab radiasi menyebabkan bertambahnya vaskularisasi, odema. Sehingga tindakan operasi berikutnya dapat mengalami kesukaran dan sering menyebabkan fistula, disamping itu juga menambah penyebaran kesistem limfe dan peredaran darah.
f. Cytostatika : Bleomycin, terapi terhadap karsinoma serviks yang radio resisten. 5 % dari karsinoma serviks adalah resisten terhadap radioterapi, diangap resisten bila 8-10 minggu post terapi keadaan masih tetap sama.
• Dapat dipakai untuk semua stadium
• Dapat dipakai untuk wanita gemuk tua dan pada medical risk
• Tidak menyebabkan kematian seperti operasi.
b. Dosis
Penyinaran ditujukan pada jaringan karsinoma yang terletak diserviks
c. Komplikasi irradiasi
• Kerentanan kandungan kencing
• Diarrhea
• Perdarahan rectal
• Fistula vesico atau rectovaginalis
d. Operasi
• Operasi Wentheim dan limfatektomi untuk stadium I dan II
• Operasi Schauta, histerektomi vagina yang radikal
e. Kombinasi
• Irradiasi dan pembedahan
Tidak dilakukan sebagai hal yang rutin, sebab radiasi menyebabkan bertambahnya vaskularisasi, odema. Sehingga tindakan operasi berikutnya dapat mengalami kesukaran dan sering menyebabkan fistula, disamping itu juga menambah penyebaran kesistem limfe dan peredaran darah.
f. Cytostatika : Bleomycin, terapi terhadap karsinoma serviks yang radio resisten. 5 % dari karsinoma serviks adalah resisten terhadap radioterapi, diangap resisten bila 8-10 minggu post terapi keadaan masih tetap sama.
BAB 3
ASUHAN KEPERAWATAN C.A SERVIKS
1.
Pengkajian
Data dasar
Pengumpulan data pada pasien dan keluarga dilakukan
dengan cara anamnesa, pemeriksaan fisik dan melalui pemeriksaan penunjang
·
Data pasien :
Identitas pasien, usia, status perkawinan, pekerjaan
jumlah anak, agama, alamat jenis kelamin dan pendidikan terakhir.
·
Keluhan utama
pasien biasanya datang dengan keluhan intra servikal
dan disertai keputihan menyerupai air.
·
Riwayat penyakit sekarang :
Biasanya klien pada stsdium awal tidak merasakan
keluhan yang mengganggu, baru pada stadium akhir yaitu stadium 3 dan 4 timbul
keluhan seperti : perdarahan, keputihan dan rasa nyeri intra servikal.
·
Riwayat penyakit sebelumnya :
Data yang perlu dikaji adalah :
Riwayat abortus, infeksi pasca abortus, infeksi masa
nifas, riwayat ooperasi kandungan, serta adanya tumor. Riwayat keluarga yang
menderita kanker.
Keadaan Psiko-sosial-ekonomi dan budaya:
Ca. Serviks sering dijumpai pada kelompok sosial
ekonomi yang rendah, berkaitan erat dengan kualitas dan kuantitas makanan atau
gizi yang dapat mempengaruhi imunitas tubuh, serta tingkat personal hygiene
terutama kebersihan dari saluran urogenital.
·
Data khusus:
1. Riwayat kebidanan ; paritas, kelainan menstruasi,
lama,jumlah dan warna darah, adakah hubungan perdarahan dengan aktifitas,
apakah darah keluar setelah koitus, pekerjaan yang dilakukan sekarang
2. Pemeriksaan penunjang
Sitologi dengan cara pemeriksaan Pap Smear,
kolposkopi, servikografi, pemeriksaan visual langsung, gineskopi.
2. Diagnosa
Keperawatan
a. Gangguan perfusi jaringan (anemia) b/d perdarahn
intraservikal
b. Gangguan pemenuhan nutrisi kurang dari kebutuhan
b/d penurunan nafsu makan
c. Gangguan rasa nyama (nyeri) b.d proses desakan pada
jaringan intra servikal
d. Cemas b.d terdiagnose c.a serviks sekunder akibat
kurangnya pengetahuan tentang Ca. Serviks dan pengobatannya.
e. Resiko tinggi terhadap gangguan konsep diri b.d
perubahan dalam penampilan terhadap pemberian sitostatika.
3.
Perencanaan
Diagnosa 1.
Gangguan perfusi jaringan (anemia) b.d perdarahan masif intra cervikal
Tujuan :
Setelah
diberikan perawatan selama 1 X 24 jam diharapkan perfusi jaringan membaik :
Kriteria hasil :
a. Perdarahan
intra servikal sudah berkurang
b. Konjunctiva
tidak pucat
c. Mukosa bibir
basah dan kemerahan
d. Ektremitas
hangat
e. Hb 11-15 gr
%
d. Tanda vital
120-140 / 70 - 80 mm Hg, Nadi : 70 - 80 X/mnt, S : 36-37 Derajat C, RR : 18 -
24 X/mnt.
Intervensi :
- Observasi
tanda-tanda vital
- Observasi
perdarahan ( jumlah, warna, lama )
- Cek Hb
- Cek golongan
darah
- Beri O2 jika
diperlukan
- Pemasangan
vaginal tampon.
- Therapi IV
Diagnosa 2.
Gangguan pemenuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d penurunan nafsu
makan.
Tujuan :
- Setelah
dilakukan perawatan kebutuhan nutrisi klien akan terpenuhi
Kriteria hasil :
- Tidak terjadi
penurunan berat badan
- Porsi makan
yang disediakan habis.
- Keluhan mual
dan muntah kurang
Intervensi :
- Jelaskan
tentang pentingnya nutrisi untuk penyembuhan
- Berika makan
TKTP
- Anjurkan
makan sedikit tapi sering
- Jaga
lingkungan pada saat makan
- Pasang NGT
jika perlu
- Beri Nutrisi
parenteral jika perlu.
Diagnosa 3.
Gangguan rasa nyaman (nyeri) b.d proses desakan pada jaringan intra servikal
Tujuan
- Setelah
dilakukan tindakan 1 X 24 jam diharapka klien tahu cara-cara mengatasi nyeri
yang timbul akibat kanker yang dialami
Kriteria hasil :
- Klien dapat
menyebutkan cara-cara menguangi nyeri yang dirasakan
- Intensitas
nyeri berkurangnya
- Ekpresi muka
dan tubuh rileks
Intervensi :
- Tanyakan
lokasi nyeri yang dirasakan klien
- Tanyakan
derajat nyeri yang dirasakan klien dan nilai dengan skala nyeri.
- Ajarkan
teknik relasasi dan distraksi
- Anjurkan
keluarga untuk mendampingi klien
- Kolaborasi
dengan tim paliatif nyeri
Diagnosa 4.
Cemas yang berhubungan dengan terdiagnose kanker serviks sekunder kurangnya
pengetahuan tentang kaker serviks, penanganan dan prognosenya.
Tujuan :
Setelah
diberikan tindakan selama 1 X 30 menit klien mendapat informasi tentang
penyakit kanker yang diderita, penanganan dan prognosenya.
Kriteria hasil :
- Klien
mengetahui diagnose kanker yang diderita
- Klien
mengetahui tindakan - tindakan yang harus dilalui klien.
- Klien tahu
tindakan yang harus dilakukan di rumah untuk mencegah komplikasi.
-
Sumber-sumber koping teridentifikasi
- Ansietas
berkurang
- Klien
mengutarakan cara mengantisipasi ansietas.
Intervensi :
- Berikan
kesempatan pada klien dan klien mengungkapkan persaannya.
- Dorong
diskusi terbuka tentang kanker, pengalaman orang lain, serta tata cara
mengentrol dirinya.
- Identifikasi
mereka yang beresiko terhadap ketidak berhasilan penyesuaian. ( Ego yang buruk,
kemampuan pemecahan masalah tidak efektif, kurang motivasi, kurangnya sistem
pendukung yang positif).
- Tunjukkan
adanya harapan
- Tingkatkan
aktivitas dan latihan fisik
Diagnosa 5. Resiko
tinggi terhadap gangguan konsep diri b.d perubahan dalam penampilan sekunder
terhadap pemberian sitostatika.
Tujuan :
Setelah
diberikan tindakan perawatan, konsep diri dan persepsi klien menjadi stabil
Kriteria hasil :
- Klien mampu
untuk mengeskpresikan perasaan tentang kondisinya
- Klien mampu
membagi perasaan dengan perawat, keluarga dan orang dekat.
- Klien
mengkomunikasikan perasaan tentang perubahan dirinya secara konstruktif.
- Klien mampu
berpartisipasi dalam perawatan diri.
Intervensi :
- Kontak dengan
klien sering dan perlakukan klien dengan hangat dan sikap positif.
- Berikan
dorongan pada klien untuk mengekpresikanbperasaan dan pikian tentang kondisi,
kemajuan, prognose, sisem pendukung dan pengobatan.
- Berikan
informasi yang dapat dipercaya dan klarifikasi setiap mispersepsi tentang
penyakitnya.
- Bantu klien
mengidentifikasi potensial kesempatan untuk hidup mandiri melewati hidup dengan
kanker, meliputi hubungan interpersonal, peningkatan pengetahuan, kekuatan
pribadi dan pengertian serta perkembangan spiritual dan moral.
- Kaji respon
negatif terhadap perubahan penampilan (menyangkal perubahan, penurunan
kemampuan merawat diri, isolasi sosial, penolakan untuk mendiskusikan masa
depan.
- Bantu dalam
penatalaksanaan alopesia sesuai dengan kebutuhan.
- Kolaborasi
dengan tim kesehatan lain yang terkait untuk tindakan konseling secara
profesional.
BAB 4
PENUTUP
4.1
Kesimpulan
Kanker serviks adalah penyakit akibat tumor ganas pada daerah mulut rahim
sebagai akibat dari adanya pertumbuhan jaringan yang tidak terkontrol dan
merusak jaringan normal di sekitarnya (FKUI, 1990; FKKP, 1997). Penyebab dari
penyakit kanker serviks adalah Human papilloma virus (HPV) 16 dan 18 dan
beberapa faktor resiko dan faktor predisposisi kanker serviks adalah Umur
pertama kali melakukan hubungan seksual,Jumlah
kehamilan dan partus,Jumlah perkawinan,Infeksi
virus,Sosial
Ekonomi,Hygiene dan
sirkumsisi dan Merokok dan AKDR (alat kontrasepsi
dalam rahim).
4.2 Kritik
dan Saran
Makalah yang kami susun ini mungkin masih jauh dari kesempurnaan untuk itu
kami mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari pembaca sekalian untuk
menyempurnakan makalah ini.
DAFTAR PUSTAKA
Castellsagué X, Bosch FX, Munoz N, Meijer CJ, Shah KV,
de Sanjose S, Eluf-Neto J, Ngelangel CA, Chichareon S, Smith JS, Herrero R,
Moreno V, Franceschi S; International Agency for Research on Cancer Multicenter
Cervical Cancer Study Group. Male circumcision, penile human Papillomavirus
infection, and cervical cancer in female partners. N Engl J Med 2002;346:1105-12. Fulltext. PMID 11948269.
Heins HC, Dennis EJ, Pratt-Thomas HR. The possible
role of smegma in carcinoma of the cervix. Am J Obstet Gynec
1958:76;726-735. PMID 13583012.
Harper DM, Franco EL, Wheeler C, Ferris DG, Jenkins D,
Schuind A, Zahaf T, Innis B, Naud P, De Carvalho NS, Roteli-Martins CM,
Teixeira J, Blatter MM, Korn AP, Quint W, Dubin G; GlaxoSmithKline HPV Vaccine
Study Group. Efficacy of a bivalent L1 virus-like particle vaccine in
prevention of infection with human papillomavirus types 16 and 18 in young
women: a randomised controlled trial. Lancet 2004;364(9447):1757-65. PMID 15541448.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar